STAF AHLI BIDANG PERENCANAAN DAN BISNIS PGE ULUBELU TEMBUS KERJASAMA INTERNASIONAL DENGAN JEPANG DAN UNI EMIRAT ARAB, POSISI PERTAMINA SEBAGAI PERUSAHAAN KETAHANAN ENERGI NASIONAL SEMAKIN KUAT DALAM MEWUJUDKAN STRATEGI ZERO EMISSION CARBON 2060

TANDATANGANI KERJASAMA KETAHANAN ENERGI UNTUK 2030, PGE ULUBELU RAIH KERJASAMA DENGAN JEPANG DAN UNI EMIRAT ARAB
PT Pertamina (Persero), sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor energi, semakin mengintensifkan program transisi energi sebagai bagian dari upaya untuk mencapai ketahanan energi nasional dan memastikan aksesibilitas, keterjangkauan, akseptabilitas, serta keberlanjutan energi di tanah air.

Dalam acara Leadership Dialogue Energi Asia yang diselenggarakan di Bandar Lampung, Indonesia. Staff Ahli bidang perencanaan dan bisnis PGE Ulubelu menjelaskan program baru PGE Ulubelu untuk program zero emission mengungkapkan komitmen perusahaan untuk menjaga ketahanan energi dan memastikan keterjangkauan melalui strategi yang mencakup pengembangan bisnis minyak dan gas, serta eksplorasi potensi energi baru terbarukan.

Saat ini, dia menyebutkan, Pertamina telah mengambil langkah Dekarbonisasi dalam operasionalnya untuk mengurangi emisi karbon.

Melalui anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam industri pemanfaatan panas bumi atau Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ulubelu melakukan audiensi dengan Jepang dan  Uni Emirat Arab dalam pengembangan hal tersebut untuk program Zero Emision.

"Hal ini untuk memastikan bahwa dalam jangka pendek, transisi energi tidak akan mengganggu ketahanan energi. Namun di sisi lain, kita masih bisa mencapai target pengurangan emisi karbon," ujarnya dalam keterangan tertulis (Sabtu, 30 September 2023) melalui zoom meeting dalam audiensinya

Di samping itu, Yoga menambahkan, Pertamina juga tengah membangun dan memperkuat infrastruktur gas di seluruh rantai nilai, mulai dari hulu hingga hilir, sesuai dengan target pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan porsi gas dalam bauran energi secara bertahap.

Dengan wilayah operasi yang mencakup 17.000 pulau, pengembangan infrastruktur gas diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas energi bagi seluruh penduduk Indonesia.

"Oleh karena itu, percepatan transisi energi di Indonesia bukan hanya upaya untuk mengurangi emisi karbon, tetapi juga untuk mewujudkan ketahanan energi," sebut dia.

Di era transisi energi, Yoga menuturkan, negara-negara di Asia Selatan, termasuk Indonesia, memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekosistem bisnis rendah karbon berkat sumber daya alamnya yang melimpah.

Untuk mewujudkannya, Pertamina telah mengalokasikan 15 persen dari total capital expenditure (Capex) untuk pengembangan portofolio bisnis rendah karbon/hijau, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata perusahaan energi lainnya.

Dirinya pun menyebutkan beberapa inisiatif yang telah dan akan terus dilaksanakan oleh Pertamina antara lain adalah dekarbonisasi dan efisiensi energi, implementasi teknologi Carbon Capture Storage (CCS)/Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) yang pertama kali dilakukan di Lapangan Pertamina EP Jatibarang.

Ada juga inisiatif pengembangan Kilang Hijau, pengembangan energi geothermal yang saat ini telah mencapai kapasitas terpasang sebesar 1.877 MW, serta produksi biodiesel. Selain itu, Pertamina juga melibatkan masyarakat dalam upaya transisi energi dengan mengembangkan Desa Mandiri Energi di 47 desa di Indonesia.

"Kita tidak bisa melakukannya sendiri. Oleh karena itu, kami membuka diri untuk kolaborasi global bersama seluruh peneliti, penemu dan para ahli dari universitas dan akademisi, perusahaan, kementerian hingga masyarakat melalui UMKM," ucap Yoga.

Pertamina berharap kerja sama tersebut akan memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Dengan meningkatnya permintaan terhadap produk budaya lokal, UMKM diharapkan akan mengalami peningkatan penjualan dan pendapatan.

Terlebih, kolaborasi ini akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan sektor pariwisata serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai pemimpin dalam transisi energi, Pertamina berkomitmen untuk mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDG). Seluruh upaya ini sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.

Dengan langkah-langkah progresif yang diambil oleh Pertamina, diharapkan transisi energi di Indonesia dapat berjalan dengan sukses, menjaga keberlanjutan sumber daya energi, dan mewujudkan ketahanan energi nasional yang lebih baik untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Penandatanganan kerjasama ini dilakukan sebagai langkah aktif Pertamina melalui PGE dalam melakukan hal tersebut, langkah pastinya akan dilakukan pembangunan beberapa kilang energi hijau dibeberapa titik di Indonesia dan dimualai dengan Penetapan CAPEX di PGE Ulubelu.

Penandatanganan kerjasama ini dilakukan oleh Staff Ahli PGE Ulubelu (Yoga) dengan kementrian energi Jepang dan Dewan Ketahanan Energi Uni Emirat Arab.








Postingan populer dari blog ini

PATRA NIAGA LAMPUNG MENDAPAT PERINGATAN TERKAIT PRICE REDUCTION, KOMISARIS PATRA NIAGA LAMPUNG DIPANGGIL DIREKTUR UTAMA